MENGOPTIMALKAN POTENSI KELAUTAN

Posted: June 23, 2009 in Lingkungan
Tags:

LAUTTidak dapat dipungkiri lagi bahwa masalah lingkungan telah membawa akibat bencana dalam tatanan kehidupan sosial dengan tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi. Melibatkan multi pihak. Mempunyai durasi yang sulit diprediksi dan bersifat multipersepsi.

Para ilmuwan yang tergabung Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) dinilai belum meletakkan isu kelautan sebagai isu strategis dalam mereduksi fenomena meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer laut dan daratan bumi secara global dari tahun ke tahun. Begitu pun sebaliknya. Dampak pemanasan global terhadap laut tidak terlalu menjadi perhatian dan pembahasan khusus.

Isu kelautan masih sangat minim dibahas. Bahkan, dalam United Nations Framework Convention on Climate Change-UNFCCC (Badan Perubahan Iklim PBB) di Bali, Desember 2007 dan UNFCCC di Polandia pada Desember 2008.

Oleh karena itu pada pertemuan Tingkat Tinggi Kepala Pemerintahan yang memiliki wilayah laut dan pantai, ilmuwan, LSM, wartawan, pihak swasta, dan stake holders yang mejadi bagian dari komunitas kelautan dunia dan para ahli lingkungan kembali berkumpul dalam Worlds Ocean Conference/WOC 2009 pada tanggal 11-15 Mei 2009 lalu di Manado dengan tema “Ocean Impact to Climate Change and The Role of Ocean to Climate Change”.

Prospek dan Potensi Wilayah

Secara nyata dunia telah mengakui bahwa laut adalah masa depan dunia sehingga laut harus dijaga, dipelihara, dan dikelola dengan penuh tanggung jawab agar dunia kelautan tetap memiliki kemampuan untuk mendukung proses percepatan pembangunan yang berkelanjutan bagi penguatan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Memanfaatkan laut sebagai sumber aktivitas ekonomi bukanlah suatu hal yang tidak memungkinkan. Dua per tiga wilayah Indonesia merupakan wilayah laut yang memiliki nilai kompetisi kekayaan sumber daya alam yang melimpah baik dari sumber daya hayati yang mampu diperbaharui (hasil-hasil perikanan), nonhayati (mineral, minyak bumi, dan gas,), energi kelautan (energi pasang surut, gelombang, ocean thermal energy conversion (OTEC)), serta jasa-jasa kelautan lainya.

Pulau-pulau yang berjumlah ribuan di Indonesia merupakan modal bagi pengembangan dunia wista bahari yang dapat menyuguhkan ekosistem menarik dan langka serta dapat memberikan manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi langsung ke masyarakat. Namun, secara umum kegiatan wisata laut di tanah air belum berkembang baik dan sampai sekarang belum secara optimal dimanfaatkan.

Melihat salah satu potensi saja, yakni ikan, sangat ironis jika Indonesia belum juga makmur. Sebab, potensi lestari perikanan nasional mencapai 6,26 juta ton per tahun sedang yang termanfaatkan baru sekitar 3,8 juta ton/ tahun. Dari jumlah itu 4,4 juta ton di antaranya berada di wilayah tangkap perairan Indonesia dan 1,8 juta ton lainnya berada di perairan ZEE.

Namun, sekali lagi, potensi tinggal potensi. Tanpa pembenahan dan peningkatan teknologi pengelolaan dan pola pemanfaatan yang baik, semua itu tidak akan membuat banyak arti bagi kemakmuran rakyat.

Indonesia dengan jumlah pulau yang jauh di atas Maladewa yang hanya memiliki 99 pulau, plus sumber daya hayati pesisir dan lautan yang luar biasa seperti populasi ikan hias terbesar dunia, terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, dan berbagai bentang alam pesisir atau coastal landscape yang unik dan menakjubkan, jelas merupakan daya tarik sangat besar bagi wisatawan.

Sebagai gambaran, pada tahun 2000 nilai yang diperoleh dari wisata bahari per tahun kita baru mencapai USD2 miliar. Nilai tersebut jelas jauh dari maksimal, mengingat potensi ekonomi wisata laut diperkirakan dapat mencapai USD 52.809,37 per hektar.

Bila dibandingkan dengan Queensland yang mempunyai karang laut yang dikenal dengan The Great Reef di Australia dengan panjang garis pantai hanya 2,1 km dalam setahun mampu mendatangkan total pemasukan devisa sebesar Rp 5,5 triliun untuk semua aktivitas yang berlangsung atau terkait dengan keberadaan terumbu karang tersebut.

Nilai yang diperoleh Indonesia tentu saja sangat kecil jika dilihat dari potensinya sebagai negara kepulauan (Archipilagic State) terbesar di dunia dengan 17.504 pulau, serta panjang garis pantai 95.181 km, atau terpanjang setelah Kanada, USA, dan Rusia Federasi.

CTI (Coral Triangle Initiative)
LAUT2
Coral Triangle (CT) atau segitiga terumbu karang dunia yang dipetakan mencakup Negara Indonesia, Malaysia, Philpina, Papua New Gunea, Kepulauan Salomon, dan Timor Leste dengan luas terumbu karang 75 ribu kilometer persegi. Indonesia sendiri memiliki luas terumbu karang sekitar 51 ribu kilometer persegi yang menyumbang lebih dari 21% luas terumbu karang dunia yang tentunya menyimpan potensi laut terbesar di dunia.

Kawasan Coral Triangle juga dikenal sebagai “Amazone of the Sea”, dan merupakan pusat keanekaramana dan kelimpahan kehidupan laut di planet bumi. Pada kawasan ini ditemukan lebih enam ratus jenis karang (lebih dari 75% jenis karang yang dikenal) serta memiliki 3 ribu jenis ikan.

Kawasan ini juga menjadi bentangan hutan mangrove terluas di dunia. Segitiga terumbu karang dunia yang sebagian besar ada di wilayah Indonesia tersebut menjadi pusat perkembangbiakan dan pertumbuhan ikan tuna, paus, kerang-kerangan, serta penyu dan organsme laut lainnya yang memberi manfaat bagi hampir seluruh Negara di dunia.

Setidaknya, lebih dari 120 juta penduduk tinggal di pesisir pantai hidup dari sumber daya alam kawasan segitiga terumbu karang. Nilai ekonomi yang bisa diraih per tahunnya mencapai 2,3 miliar dollar AS atau 21 triliun lebih.

Selain dari itu, keberadaan terumbu karang dan hutan mangrove di pesisir kawasan segitiga terumbu karang mampu melindungi penduduk dari ancaman tsunami atau pengikisan pantai. Sementara itu, negara-negara maju banyak menikmati manfaatnya. Tetapi, perhatian dunia dirasakan masih sangat kurang.

Oleh karena itu melalui Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference (WOC) di Manado lalu Indonesia harus mengambil langkah nyata untuk melindungi potensi lautnya dan diharapkan mampu menghasilkan kebijakan strategis untuk konservasi kelautan dan menaikkan posisi tawar Indonesia di dunia. Khususnya posisi tawar sebagai salah satu negara kelautan terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi yang dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Wisata Bahari
LAUT1
Isu ekotorisme di beberapa Negara berkembang telah dijadikan salah satu alternatif di dalam meningkatkan pendapatan negara dan membuka peluang kerja baru. Pengembangan sektor wisata bahari pada hakikatnya adalah upaya mengembangkan dan memanfaatkan obyek serta daya tarik kawasan pesisir dan laut berupa kekayaan alam pantai yang indah, keragaman taman laut berupa flora dan fauna dan hewan seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias, serta budaya tradisional yang berkaitan dengan legenda kelautan.

Di satu pihak, potensi kebaharian merupakan anugerah buat Indonesia yang butuh devisa untuk pembangunan bangsa dan negara. Namun, di lain pihak, patut disadari bahwa pembangunan ekonomi umumnya dan pengembangan kepariwisataan khususnya bukan hanya meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan, melainkan juga menimbulkan perubahan terhadap lingkungan dan sumber daya alam yang tidak diharapkan.

Kewaspadaan terhadap dampak lingkungan dalam upaya menghadapi pengembangan wisata bahari menjadi sangat penting guna memelihara keberlanjutan kualitas lingkungan sumber daya alam khususnya, dan menjamin pembangunan (ekonomi) berkelanjutan umumnya.

Pengembangan wisata bahari yang dipadukan dengan konservasi lingkungan tidak hanya memerlukan pandangan tentang perlunya proses perencanaan dan perancangan diperkenalkan dan digalakkan. Melainkan juga memerlukan langkah-langkah strategis yang diharapkan mampu menghasilkan produk unggul bagi daerah tujuan wisata di masa-masa mendatang.

Pengembangan wisata bahari diharapkan memperhatikan pola pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan pengelolaan dengan konsep pelestarian lingkungan berbasis masyarakat dengan menitikberatkan pada keseimbangan ekosistem.

Hal tersebut tentunya hanya dapat dicapai, jika mampu membangun kepariwisataan yang selalu memperhitungkan daya dukung serta mampu mendorong tercapainya pariwisata berkualitas serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Agar wisata bahari dapat berkelanjutan maka produk pariwisata bahari yang ditampilkan harus harmonis dengan lingkungan local spesifik.

Dengan demikian masyarakat akan peduli terhadap sumbera daya wisata karena memberikan manfaat sehingga masyarakat merasakan kegiatan wisata sebagai suatu kesatuan dalam kehidupannya serta dapat mengurangi pengrusakan secara langsung dari kegiatan eksploitasi.

Faktor penting yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan kegiatan wisata bahari adalah strategi dan manajemen daya tarik obyek industri wisata yang terkait. Mulai dari aspek teknis, strategi jasa pelayanan, sampai kepada strategi penawaran. Selanjutnya, berupa dukungan perangkat kebijakan dari pemerintah serta penciptaan iklim keamanan yang kondusif bagi kegiatan pariwisata di Indonesia.

Upaya lainnya adalah peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pengembangan wisata bahari, serta penyediaan sistem informasi pariwisata dan program promosi yang tepat. Selain dari itu, upaya pengendalian dampak sosial ekonomi dan budaya, pengembangan wisata bahari Indonesia harus ditujukan pada upaya meningkatkan pemerataan kesempatan, pendapatan, peran serta dan tanggung jawab masyarakat setempat yang terpadu dengan upaya pemerintah (Daerah) dan dunia usaha yang relevan, dalam mengembangkan maupun dalam pengelolaan lingkungan sumber daya alam baharinya.

Tentunya, komitmen dan peran serta pemerintah, industri wisata laut swasta dan kemitraan pengusaha dan masyarakat sangat dibutuhkan sehingga sektor marine tourism dapat menjadi strategi dasar pengembangan pariwisata di Indonesia. Bila sektor industri wisata laut ini dikelola secara baik, diyakini dapat menjadi lokomotif penggerak ekonomi dan menambah pemasukan daerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s