KEBANGKITAN PEMUDA ORDE REFORMASI*

Posted: June 20, 2009 in Uncategorized
Tags:

Oleh:
Dr Wahyu Dewanto
Scholar and Consultant

Indonesia Kini
Dimanapun kita berada di negri tercinta ini, di kota, di desa, di kampung, atau di hutan pedalaman, kita melihat banyak kejanggalan dan pemandangan yang menyayat hati. Jumlah penganguran sangat tinggi, anak-anak terlantar tanpa pendidikan, kejahatan meluas, antrian panjang kebutuhan pokok dan kelangkaan energi menjadi bagian kehidupan kita. Anak-anak bangsa menderita kelaparan dan gizi buruk, fasilitas kesehatan sangat minim dan penyakit bertebaran di seluruh negri. Masa depan generasi kita semakin suram dan masa depan bangsa terancam.
Kalau kita melihat alam raya kita yang luas dan subur ini, kita pun tergetar menyaksikan kenyataan di lapangan – yang tidak banyak orang menyadarinya. Lingkungan alam yang menjadi aset utama bangsa ini mulai habis dan rusak dan akhirnya mengancam kehidupan kita. Kerusakan alam Indonesia sudah mencapai taraf yang kritis. Hutan kita hanya tinggal kurang dari 20%, tambang-tambang kita dikuasai oleh asing, lautan kita yang sangat luas utamanya di kuasai dan dinikmati oleh kapal-kapal nelayan asing. Bencana demi bencana mengancam anak cucu kita dan kehidupan kita semua. Lingkungan alam kita yang dulu produktif dan menjanjikan kini semakin kering, tandus dan gersang. Anak-anak bangsa akan kehilangan potensi alam melimpah yang dulu pernah kita banggakan.
Keadaan yang memilukan ini tentu akan mengusik hati nurani kita semua sebagai pemuda penerus bangsa. Sudah seharusnya kita introspeksi dan bertanya apa yang salah dari negri ini. Pemerintah kita dari dulu hingga sekarang kenyataannya tidak efisien dan tidak efective seperti yang kita harapkan. Kita melihat bahwa beberaapa pemerintahan kita tidak memiliki visi yang kuat kedepan untuk dapat melihat permasalahan mendasar Indonesia, sehingga kita berputar di kubangan penderitaan tanpa tahu bagaimana dan kapan akan mengakhirinya. Kita tidak mampu melihat permasalahan global secara comprehensive. Keterpurukan bangsa ini adalah sebenarnya bagian dari permasalahan global, bagian dari persaingan dan geopolitik dunia yang harus kita pahami secara detail agar kita dapat menetapkan langkah-langkah strategis dalam menentukan kebijakan nasional.
Untuk bisa melihat, memikirkan dan memecahkan permasalahan bangsa, kita perlu memiliki budaya dan kehidupan politik yang sehat. Kenyataannya kehidupan perpolitikan Indonesia yang menjadi tulang punggung kehidupan demokrasi yang beretika dan dinamis belum condusive untuk dapat menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Kehidupan perpolitikan kita belum cukup dewasa untuk dapat total focus memperbaiki kehidupan bernegara dan berbangsa. Persaingan antara kelompok, partai di pusat dan di daerah-daerah memperlihatkan budaya politik yang tidak sehat dan tidak efisien, yang akhirnya justru menimbulkan pemborosan dan perpecahan antara kelompok. Partai politik terlihat berfikiran sempit dan hanya terfakus pada program jangka pendek untuk memenangkan pemilu, memasang presidennya dan berbagi kursi empuk, tanpa bisa merancang, membangun dan memperkuat bangsa ini. Semua mengedepankan kepentingan pribadi/kelompok yang sering mengorbankan kepentingan rakyat dan bangsa. Bibit-bibit perpecahan bangsa sudah bersemi dan semakin menyebar dan membesar hari demi hari diseluruh negri.

Indonesia Dalam Bahaya!

Mari kita lihat kenyataan kehidupan bangsa kita secara lebih detail untuk bisa melihat keadaan kita saat ini dan memprediksi bagaimana kecenderungan kehidupan kita kedepan.
Negara Indonesia hingga saat ini belum pulih dari crisis ekonomi tahun 1997. Sementara krisis ekonomi global mulai mendera dan menghantui bangsa-bangsa di dunia. Indonesia tidak kebal terhadap imbas krisis ekonomi global ini. Dengan keadaan, sikap dan mentalitas kita yang seperti sekarang ini, diprediksi krisis ekonomi global akan mendera kita dengan cukup keras, dan bahkan dampaknya akan permanen dan catastrophic. Sebagian besar masyarakat umum sudah mulai merasakan mahalnya harga-harga kebutuhan pokok, sulitnya mendapatkan pekerjaan, sulitnya membangun usaha, sulitnya mendapatkan modal, kurangnya investasi atau semakin langkanya energi. Kekurangan gizi terlihat dimana-mana dengan angka mencapai 300.000 anak kekurangan gizi. Masyarakat merasakan keresahan yang luar biasa, frustasi dan hampir putus asa melihat kenyataan kita saat ini ditambah persaingan global yang makin keras.
Fakta bahwa jumlah rakyat miskin di Indonesia bertambah banyak karena krisis –krisis yang melanda dunia adalah sangat jelas terlihat dimana-mana. Jumlahnya bervariasi tergantung siapa yang mengatakannya. Angka kemiskinan di Indonesia menurut BPS 17% berarti 37 juta orang. Menurut World Bank 49% = 120 juta orang. Dengan krisis ekonomi global saat ini angka ini akan terus bertambah. Menurut para pengamat independent angka kemiskinan di Indonesia jauh melebihi angka-angka yang dikeluarkan BPS ataupun Wold Bank. Dengan krisis global saat ini kemiskinan bisa menembus angka 150 juta orang dalam setahun kedepan. Ancaman dari kemiskinan akan berdampak sangat tinggi pada masalah social politik bangsa secara keseluruhan. Angka kemiskinan yang terus meningkat akan mengakibatkan angka criminal meningkat, angka kematian meningkat, angka anak-anak kurang gizi meningkat yang akhirnya akan menghasilkan generasi yang bodoh. Masyarakat sudah jelas terlihat semakin putus asa dengan keadaan yang semakin memburuk dan tak menentu. Keadaan seperti ini dapat menyebabkan terjadinya konflik sosial yang mengarah kepada disintegrasi bangsa yang dipicu oleh desperation, kesenjangan sosial, kriminalitas, pertikaian antarumat beragama, suku, antardesa atau antara partai politik.
Tahun 2006 jumlahnya anak putus sekolah sekitar 9,7 juta anak, dan pada 2007 meningkat sehingga menjadi 11,7 juta anak. Diperkirakan tahun ini akan mencapai 15 juta anak putus sekolah (Suara Pembaharuan web, 24/5/2008). Angka pengangguran, yang merupakan cermin dari kinerja perekonomian nasional menunjukkan angka peningkatan tajam. Tahun 2006 angka sarjana menggangur 183.629 orang, sedangkan tahun 2007 angka sarjana menganggur meningkat 409.890 orang (Kompas web 20/3/2008). Jika angka pengganguran sarjana sudah cukup besar, tentu angka pengganguran yang non-sarjana jauh lebih besar. Dampak pengangguran akan terjadi ketika pengangguran itu berlanjut menjadi kemiskinan, apalagi ketika kemiskinan absolut menjadi eksis dan jumlahnya sangat besar. Social unrest akan mudah meledak, jika ini terjadi dalam skala besar dan terkoordinasi disintegrasi bangsa akan terancam.
Jumlah kemiskinan yang sangat besar ini, seharusnya membuat kita bertanya ulang tentang fungsi negara dan pemerintahan. Negara yang diwakili oleh pemerintahannya mempunyai fungsi utama untuk mensejahterakan rakyatnya. Jika angka kemiskinan terus bertambah, jelas ada yang salah dengan pemerintahannya. Ironisnya kemiskinan terjadi di Negara Republik Indonesia yang dikenal sebagai negara yang sangat subur dan kaya akan hasil alam. APBN Indonesia yang hanya sekitar 900 triliun menunjukan bahwa bukan hanya rakyat Indonesia yang miskin tetapi negara Indonesia juga termasuk pada kategori miskin. Pertanyaan selanjutnya kemana larinya kekayaan Indonesia yang sangat besar itu? Kenapa kita membiarkan hasil kekayaan alam kita yang luar biasa itu diambil dan dinikmati oleh pihak-pihak luar?
Dalam setiap perdebatan tentang bagaimana kita harus memperbaiki negara ini, kita selalu terbentur dengan masalah pendanaan. Masalah aset kekayaan alam kita merupakan masalah yang sangat sensitive, bukan hanya para petinggi negara yang terlibat dan bertanggung jawab soal ini tetapi juga melibatkan institusi asing dan dunia yang secara ketat mengontrol pendanaan dan aset bangsa yang kita miliki. Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumber daya alam yang melimpah. Kenyataannya 80% kekayaan alam ini dikuasai dan dinikmati atau mengalir ke luar negri tanpa kita sanggup untuk membendungnya. Disinilah sebenarnya kita harus memulai untuk memikirkan dan memperbaiki kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia, walaupun untuk melakukan ini tidak mudah dan tinggi resikonya bagi kita. Kekayaan alam Indonesia harus digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia secara merata.
Percaturan geopolitik dunia semakin keras karena penduduk bumi yang semakin padat dan sumber daya alam di bumi terbatas. Negara-negara yang memilki sumber daya alam akan selalu menjadi incaran negara-negara lain. Keterpurukan di Indonesia disebabkan oleh kesalahan kita sendiri yang membiarkan alam Indonesia dikuasai oleh asing dengan menggunakan tangan-tangan bangsa sendiri. Negara lain berupaya melindungi kekayaan alamnya, tapi Indonesia justru menjualnya dengan harga yang sangat murah. Perusahaan-perusahaan asing masuk dengan leluasa dan mengexploitasi kekayaan alam Indonesia dengan membawa sebagian besar hasil alam Indonesia. Sangat memprihatinkan jika negri yang subur kaya raya ini tidak mampu memberikan kebutuhan dasar yang layak kepada rakyatnya.
Exxon Mobil dalam laporan pendapatannya pada 2007 memperoleh keuntungan sebesar 40,6 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 372,302 triliun (dengan kurs Rp 9.170), berarti Exxon Mobil mengeruk Rp 11.801.790 setiap detiknya. Sedangkan perusahaan minyak AS lainnya, Chevron, melaporkan keuntungan yang diperolehnya selama tahun 2007 mencapai 18,7 miliar dolar AS atau setara dengan nilai Rp. 171,479 triliun. Royal Ducth Shell menyebutkan nilai profit yang mereka dapatkan selama setahun mencapai 31 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 284,27 triliun. (Republika website 10/5/2008)
Melihat kenyataan ini semua, saya melihat bahwa negeri ini terancam kelangsungan masa depannya. Sebagian besar rakyat kita miskin dan menderita, anak-anak bangsa tidak memiliki harapan untuk tumbuh sehat, kuat dan berpendidikan. Di semua sektor kehidupan kita semakin memburuk dan suram. Bukan saja kelas menengah kebawah yang secara phisik dan mental menderita dan putus asa, namun rakyat kelas menengah dan atas di negri ini pun merasakan kegalauan dan keresahan yang luar biasa akan masa depannya dan masa depan bangsa Indonesia.
Indonesia Memanggil
Sudah menjadi tradisi dalam sejarah peradaban manusia bahwa kaum muda akan mengambil peran dalam meluruskan dan memperbaiki suatu kekeliruan. Generasi muda lebih peka dan selalu mengambil inisiatif, berani mengambil langkah besar dan beresiko demi suatu kemajuan. Tak terkecuali putra putri bangsa Indonesia. Kita tidak akan tinggal diam melihat negara dan bangsa Indonesia ini dalam bahaya. Kita tidak akan tinggal diam melihat anak-anak kita kelaparan, tidak sekolah, hidup di kolong langit, sakit dipinggir jalan. Kita tidak akan biarkan bangsa ini semakin terpuruk dan hancur. Kita tidak ingin bangsa besar ini dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain. Saya yakin dan kita semua percaya bahwa Indonesia bisa bangkit untuk menjadi bangsa yang besar dan punya harga diri dan martabat serta masa depan.

Saya percaya dengan keyakinan, kesungguhan, persatuan, strategi dan visi – kita generasi muda Indonesia – akan mampu menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia dan mengawal anak-anak bangsa membangun dan menghuni Indonesia Raya dengan aman, damai dan sejahtera. Untuk dapat mewujudkan keinginan dan cita-cita bangsa Indonesia maka kita harus bersatu, merapatkan barisan, bahu membahu melindungi, mengarahkan, dan melakukan tindakan apapun yang diperlukan bangsa ini untuk dapat kembali menjadi bangsa yang mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membanguan kehormatan bangsa.
Dari keadaan Indonesia yang semakin sulit, dan keadaan persaingan global yang semakin tajam dan keras, maka Indonesia dihadapkan pada suatu kondisi yang penuh ancaman baik secara national maupun international. Kini saatnya bangsa ini bangkit untuk menyelamatkan negara yang berada di kubangan kemiskinan dan keterpurukan disemua lini. Jika keadaan ini terus berlarut dan memburuk maka Indonesia akan memasuki ambang kehancuran. Pemerintahan dari partai apapun tahun 2009 akan mengalami keadaan yang sangat sulit untuk mengembalikan Indonesia kepada track pembangunan yang menjanjikan perbaikan bangsa. Karena itu pemerintahan 2009 akan menjadi kunci tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia kedepan. Kita sebagai generasi penerus bangsa wajib menyadari keadaan yang sesungguhnya ini dan harus siap untuk ikut mengambil sikap dan membantu pemerintahan terpilih untuk menyelamatkan negri ini. Saya percaya bahwa putra-putri Indonesia mampu untuk menjawab tantangan dan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara dengan effective dan cepat.
Untuk mengembalikan pembangunan Indonesia ke jalur yang seharusnya adalah perjuangan yang membutuhkan dana, strategi, komitmen, dan profesionlisme bagi para pelaku, terutama para pemimpin bersama tokoh-tokoh muda kita. Rakyat berharap akan adanya sebuah terobosan radikal yang bisa mengembalikan pembangunan ke jalur yang semestinya. Dan harapan itu salah satunya dari kita putra-putri penerus bangsa ini untuk bisa meniupkan angin perbaikan dan harapan baru. Masa depan bangsa Indonesia ada dipundak kita bersama. Kita generasi muda harus dapat menjadi motor penggerak perubahan, kita harus dapat segera menyatukan berbagai komponen bangsa, mensinergikan upaya dan membangkitkan semangat persatuan untuk melaksanakan pembangunan dan perbaikan mendasar secara national. Kita generasi muda harus mampu melihat permasalahan bangsa secara comprehensive serta visioner dan dapat mengambil langkah-langkah staretegis dan langkah-langkah revolusioner untuk menyelamatkan rakyat dan bangsa. Kita generasi muda harus bisa menjaga keutuhan tanah air tercinta termasuk memelihara lingkungan alamnya untuk kesejahteraan seluruh rakyat kini dan generasi akan datang. Kita generasi muda harus dapat membangkitkan nasionalisme dan patriotisme bangsa untuk mampu menjaga dan mengawal rakyat Indonesia menuju perdamaian dan kesejahteraan bersama.
Kepada seluruh pemuda-pemudi Indonesia dimanapun berada di penjuru dunia, mari kita tunjukan tanggung jawab kita dan kita buktikan kemampuan kita sebagai anak bangsa untuk mempertahankan, menjaga dan membangun negri tercinta Indonesia. Tuhan beserta kita.
*****
* Disampaikan pada : SEMINAR NASIONAL
Membangun Optimisme dan Nasionalisme Bangsa Menuju Indonesia Baru yang Sejajar dengan Bangsa Bangsa Maju di Dunia
wahyu
Sragen, 28-29 Oktober 2008
Dr Wahyu Dewanto
Scholar and Consultant
Former Lecturer Charles Darwin University and Tasmania University, Australia
Currently Works for MKEA Architects
Email: w.dewanto@mkea.com.au

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s