GURU DAN REALITAS POLITIK BANGSA

Posted: June 20, 2009 in Pendidikan
Tags:

Nasib Guru Indonesia..!!!????
*Memerdekakan Politik Pendidikan*
By : AS. Womal
Dalam usia 63 tahun kemerdekaan Indonesia, dunia pendidikan kita tampaknya masih terpasung kepentingan politik praktis dan ambiguitas kekuasaan. Padahal, politik dan kekuasaan suatu negara memegang kunci keberhasilan pendidikan.

Dalam konteks pembangunan demokratisasi dan desentralisasi di Indonesia, peran politik eksekutif dan legislatif untuk memajukan pendidikan begitu besar. Ranah politik dan kekuasaan harus mampu mewujudkan sistem pendidikan yang mencerdaskan dan mencerahkan peradaban bangsa ini.

Tokoh liberalisme pendidikan asal Amerika Latin Paulo Freire pernah menegaskan bahwa bagaimanapun kebijakan politik sangat menentukan arah pembinaan dan pembangunan pendidikan. Freire memandang politik pendidikan memiliki nilai penting untuk menentukan kinerja pendidikan suatu negara.

Bangsa yang politik pendidikannya buruk, maka kinerja pendidikannya pun pasti buruk. Sebaliknya, negara yang politik pendidikannya bagus, kinerja pendidikannya pun juga akan bagus. Pertanyaannya kini, bagaimanakah realitas
politik pendidikan kita saat ini?

*Realitas politik pendidikan*

Sampai saat ini, realitas politik pendidikan di negara kita masih belum sepenuhnya merdeka. Hal ini bisa kita lihat dari komitmen pemerintah yang masih rendah dalam mewujudkan akses dan pemerataan pendidikan dasar yang
bebas biaya, belum terpenuhinya anggaran pendidikan sebesar 20%, kurangnya penghargaan terhadap profesionalisme dan kesejahteraan guru, rendahnya mutu
dan daya saing pendidikan, upaya otonomi pendidikan yang masih setengah hati, dan sebagainya.

Pemerintah sebetulnya telah menetapkan Renstra pendidikan tahun 2005–2009 dengan tiga sasaran pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai, yaitu meningkatnya perluasan dan pemerataan pendidikan, meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan, dan meningkatnya tata kepemerintahan (*governance*), akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Pemerintah Indonesia juga telah berupaya terus-menerus memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan negara,yaitu mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional,yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun dalam realitasnya, kita menyaksikan ternyata kebijakan dan praktik pendidikan kita masih jauh panggang dari api.

Sampai saat ini dunia pendidikan kita juga masih dihadapkan pada tantangan besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Tantangan utama yang dihadapi di bidang pendidikan pada 2008 adalah meningkatkan akses, pemerataan, dan kualitas pelayanan pendidikan, terutama pada jenjang pendidikan dasar, perbaikan kurikulum pendidikan, dan tuntutan profesionalisme dan kesejahteraan guru.

Pada saat yang sama, kesenjangan partisipasi pendidikan juga masih terjadi, terutama antara penduduk miskin dan penduduk kaya. Meskipun pemerintah telah menyediakan bantuan operasional sekolah (BOS) untuk jenjang pendidikan
dasar, masih ditemukan adanya beberapa sekolah yang masih menarik berbagai iuran, sehingga memberatkan orang tua, terutama bagi keluarga miskin. Kesenjangan partisipasi pendidikan tersebut terlihat makin mencolok pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Data 2008 menunjukkan bahwa angka partisipasi murni (APM) tingkat SD/MI mencapai 95%, sedangkan tingkat SMP/MTs baru sebesar 71,83%. Sementara itu, angka partisipasi kasar (APK) SMA/MA/SMK 2006 baru sebesar 55,22%, dan APK
pendidikan tinggi hanya mencapai 16,70%. Sedangkan angka putus sekolah tingkat SD mencapai 2,97%, SMP 2,42%, SMA 3,06%, dan PT 5,9%.

Hal ini diperparah lagi dengan masih tingginya jumlah warga negara yang buta huruf, tercatat bahwa dari total penduduk sebanyak 211.063.000, yang masih buta huruf pada usia 15 tahun ke atas berjumlah 15.4 juta, dengan perbandingan laki-laki 5,8% dan perempuan 12,3%, dengan penyebaran di perkotaan 4,9%, dan pedesaan 12,2%.

Keadaan tersebut memberi gambaran mengenai realitas politik pendidikan di Indonesia yang masih belum merdeka dan tertinggal jauh dari tuntutan daya saing global. Politik pendidikan kita belum mampu memberikan harapan konkret atas kemajuan bangsa ini di masa depan.

*Arah perbaikan*

Di usia kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-63 ini, Indonesia mesti
melakukan pembangunan politik pendidikan yang solid dan prospektif.
Pertama-tama hal ini tentu saja harus diawali dari komitmen para penentu
politik pendidikan itu sendiri, yaitu: para elite politik, pejabat
pemerintah di Pusat maupun Daerah serta para pengambil kebijakan negara.
Mereka semua harus memiliki komitmen dan kesadaran akan betapa pentingnya
pendidikan (*sense of education*).

Karena itu, ada beberapa agenda yang perlu diperhatikan untuk menentukan
arah dan masa depan politik pendidikan yang merdeka.

Pertama, menghapus dikotomi dualisme penyelenggaraan pendidikan. Pemerintah
wajib menyelenggarakan pendidikan secara demokratis dan berkeadilan serta
tidak diskriminatif. Pendidikan yang berada di bawah naungan Departemen
Pendidikan Nasional dan Departemen Agama harus berjalan seimbang dalam hal
mutu, kualitas dan kemajuannya. Sehingga tidak ada lagi pandangan bahwa
pendidikan keagamaan terkesan tidak bermutu dan terbelakang.

Kedua, peningkatan anggaran pendidikan. Kita semua menyadari, bahwa untuk
memajukan dunia pendidikan nasional, pemenuhan alokasi anggaran pendidikan
minimal 20% dari APBN dan APBD adalah menjadi keniscayaan. Ini menjadi
persoalan mendesak, jika kita betul-betul serius ingin mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dan, UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) telah mengamanahkannya.

Ketiga, pembebasan biaya pendidikan dasar. Pemerintah dan pemerintah daerah
harus punya kemauan kuat untuk bisa membebaskan siswa dari biaya operasional
pendidikan untuk tingkat sekolah dasar. Pasal 31 ayat (2) UUD 1945 secara
tegas mengamanatkan, “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar
dan pemerintah wajib membiayainya.”

Keempat, perbaikan kurikulum. Pendidikan mesti diarahkan pada sistem terbuka
dan multimakna serta pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang
hayat. Karena itu, kurikulum pendidikan harus mampu membentuk insan cerdas,
beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kebebasan mengembangkan
potensi diri. Pendidikan juga mesti diselenggarakan dengan memberi
keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik
dalam proses pembelajarannya.

Kelima, penghargaan pada pendidik. Pemerintah harus lebih serius
meningkatkan kualifikasi, profesionalisme dan kesejahteraan guru. Sebab,
guru merupakan pilar utama pendidikan dan pembangunan bangsa. Tanpa guru yang profesional dan sejahtera, mustahil pendidikan kita akan maju dan berdaya saing.

Apabila kita fokuskan pada poin ke lima, dalam realitasnya guru sering dijadikan sebagai komoditas politik yang selalu digarap dan dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik sesaat baik ditingkat pusat maupun daerah. Dengan mengatas namakan perjuangan guru biasanya para politisi memberikan janji-janji yang begitu indah bagi para guru. Kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam suksesi politik daerah (Pilbup dan Pilwali) biasanya guru berada pada posisi dilematis dimana disatu sisi akan menegakan netralitas sebagai PNS disisi lain tekanan dari Birokrasi untuk memilih kandidat tertentu (biasanya incumbent) lebih keras dan di ikuti ancaman untuk mutasi dll.

Gambaran di atas bukan suatu rekayasa akan tetapi sebuah realitas yang sangat memprihatinkan bagi profesi guru dlaam realitas politik bangsa ini. Ungkapan PAHLAWAN TANPA TANDA JASA adalah permen pahit bagi guru yang sampai sekarang laksana BAYI MERANGKAK…..!!!!

Semoga kita secara bersama mampu memerdekakan politik pendidikan yang prospektif dan menjanjikan kemajuan masa depan bangsa. Sehingga, cita-cita untuk menjadi bangsa besar yang berperadaban tinggi mampu kita raih.
Indonesia Bisa…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s